Saturday, November 15, 2014

Cerpen/Cerbung: Surat Cinta untuk Izrail



 Surat Cinta untuk Izrail

Suara gaduh itu masih mengganggu telinga Sheny. Sama seperti hari-hari biasa. Sheny hanya diam mennggapinya. Meski dalam hati pemberontak sudah siap siaga, segera dikeluarkan headset hitam dari tas ransel hitam miliknya. Tas itu masih tampak baru atau masih terlihat terawat kalaupun itu sudah tua. Ia hanya menggantung satu saluran ke telinga yang tertutup jilbab putih itu. Namun volume satu saluran itu di stelnya full hingga tombol MP3 biru itu tak memberikan perubahan pada lagu mellow yang tengah membawanya.
Posisi sudut kanan belakang tanpa teman sebangku tanpaknya sudah menjadi rumah baginya semenjak empat bulan namanya terdaftar di sekolah yang tergolong elit itu. Namun tak ada satu pun dari mereka yang mau mengisi kekosongan di sampingnya. Jadi selama itu ia hanya sendiri bersama bangku kosong tak bersalah itu.
Kelas masih berteriak akan tawa 25 murid yang belum mencapai setengah tahun usianya di SMA favorit itu.
Pak Aziz masuk. Guru matematika yang terkenal killer degan penampilan yang selalu rapi. Kali ini sepetu kulit coklat mengkilat. Kemeja biru lengan panjang licin sewarna dengan MP3 Sheny jelas tergambar betapa perhatian Buk Farida padanya. Sungut yang antara ada dan tiada, sedikit membuatnya tanpak lebih muda dari usianya yang sebentar lagi akan mencapai kepala 5. Rambut yang sudah hilang dibagian tengah berseling putih hitam pun menggambarkan betapa keras otaknya berpikir setiap hari tentang soal yang akan disuguhkannya pada murid-muridnya.
Kakinya sudah melewati pintu jati coklat itu. Kali ini pak Aziz membawa siswa yang mukanya masih sangat asing bagi siswa kelas X-3 yang masih asyik dengan  urusannya masing-masing.
“hmmmmmm...!!!” dehaman keras itu mengheningkan kelas suntuk itu seketika. Cukup menggoreskan kerutan di dahi si anak baru yang berada di sampingnya. Sedang Sheny yang memperlihatkan wajah tak bersalah terus menatap ke titik perhatian sambil mendengarkan musik yang dari tadi belum di hentiikannya. Muka asing itu tampak tak menarik hati gadis kulit putih bersih itu.
“Hai,,,, nama.... Bima Anggara, asal sekolah... SMA Harapan Bakti....udah Pak,,,,”gaya coolnya menjadikannya pusat mata seketka. Terutama mata gadis-gadis yang penuh harapan.
“Silahkan duduk di bangku yang kosong,,,”perintah pak Aziz spontan mengejutkan Sheny yang masih mendengarkan lagu galau. Semua mata menatap Sheny. Tampak wajah yang tak ikhlas pada posisinya. Terutama Lyana. Gadis yang sedang menjadi trending topik para siswa. Cantik, kaya, pintar selalu menjadi tolak ukur mereka. Sepertinya Lyana juga punya ketertarikan pada Bima sang anak baru itu. Tapi itu bukan masalah bagi Sheny. Cewek paling acuh.
“Hi,,,” sapaan itu tanpak ikhlas keluar dari cowok berambut berdiri itu.
                Sheny hanya mengangguk dengan ekspresi datar. Kemudian kembali pada tatapannya yang lurus ke depan. Kali ini ia sudah melepas headsetnya. Sesekali ia menunduk menatap buku bilingual yang sudah terkambang dari tadi. Bima tak peduli sikap aneh itu. Ia menganggapnya sebagai perlakuan biasa terhadap anak baru sepertinya. Apalagi cewek dingin kayak gitu.
                Istirahat kali ini tampak berbeda. Semuanya menuju arah pojok kanan belakang. Berlomba mencari perhatian Bima, cowok putih tinggi, memenuhi kriteria cowok perfek yang diidamkan gadis seusianya. Segudang pertanyaan menghantamnya sekaligus. Jiwa SMA yang seperti ini membuatnya bosan seketika. Sesuatu yang tak menantang. Perhatian ini dengan mudah ia dapatkan. Sama seperti di sekolahnya yang dahulu. Tapi jawaban singkat, padat, jelas yang dilontarkan sesekali dicampurnya dengan senyum yang membuatnnya makin keren di mata para gadis. Pikiran awalnya itu tak menggambarkan kebosanannya.
“permisi,,,,, nanti aja ngobrolnya ya,,,aku keliling dulu,,,” caranya menghindar tampak lebih sopan dari penampilannya. Seketika ia berlalu meninggalkan gerombolan penuh harap padanya. Kedipan sayu langsung tergambar di mata mereka setelah beberapa saat sebelumnya matanya terus menganga tanpa kedip hanya untuk Bima.
Benar saja, Bima hanya kelilling sekolah dua lantai yang terbagi atas empat gedung itu. gedung A menjadi tempat pijaknya kali ini. tak ada sesuatu yang special baginya. Suasana tampak sama seperti sekolahnya dulu. Bangunannya pun mirip. Entah plagiat yang mana? Hanya mata bima tak dipenuhi kuning muda lagi seperti cat yang menyelimuti dinding sekolahnya dulu. Ia harus menyesuaikan diri dengan hijau terang yang merupkan salah satu warna papan bawah menurutnya. Suasana istirahat yang cukup gaduh memaksanya menjauhi keramaian. Jiwanya belum bisa menerima kepindahannya ini. paksaan ayahnya yang baru saja menetapkan talak tiga pada ibu tercinta menjadi faktornya. Sebagai anak tunggal pemilik perusahaan tekstil yang sedang mencapai puncak ia tak berdaya sedikit pun. Kemewahan yang sudah dari dulu di dapatkannya terasa mengikatnya erat. Sekarang ibu hanya sendiri.
Sebatang pohon alpukat ukuran sedang itu tampak terpencil sendiri. Namun cukup ridang tampaknya. Keheningan pun ikut mewarai. Bima melaangkah menujunya. Mnuju pohon tampa teman. Hari pertama ini sebenarnya tak terlalu buruk. Hanya saja beban pikiran masih dipiulnya berat. Ia sandarkan punggungnya ke batang itu. Buahnya sudah tampak menggantung, namun masih belia. Mungkin akan menggigit lidah penikmat yang berharap itu manis padahal pahit sekali. Tapi pikiran itu tak dipikirnya. Sepoi angin pukul 11 berusaha dinkmatinya agar tak ketinggalan seedetik pun. Hembusan itu bagai mengusapnya, ditambah nyayian suling dari sekelompok pohon banbu yang jauh 100 meter darinya terdegar menambah nyanyian tidur siangnya. Hingga ia terlelap.
Tak ada yang tau diamana ia kini. Setengah jam sudah lelap itu dijalaninya tanpa ingat pelajaran pak Aziz masih ada satu jam lagi setelah jam istirahat ii usai. Bebanya terlanjur dibuai angan-angan siul bambu. Iuuuuuu....... bunyi sarine tanda istirahat usai telah mengemukakan suaranya. Tak ada satu respon pun dari Bima.
Auuu!!!! Ia terbangun. Tangannya menutupi bagian dahi yang terasa sakit. Sepertinya sesuatu yang keras tept mendarat di tulang frontalnya.

CERPEN



Cinta Kejut Listrik
 
Langkah kaki sudah kupersiapkan menuju tujuan hidup masa ini. Tas hitam dengan bis abu-abu itu mungkin akan mendapat gejala overdosis, menampung kegiatan 9 jam di tempat terjenuh dalam hidup. Namun punggungku masih enggan menyandangnya. Perutku masih kosong pagi ini. Di meja persegi panjang beralas kain seadanya itu belum memilliki beban apapun pagi ini. Hah,,,,,  perasaan rindu orang tua mulai menghampiriku. Mungkin 9 tahun sudah hal ini kurasakan. Saat dimana mereka pikir aku sudah bisa mengurus diri sendiri. Bodohnya, aku menyetujui perjanjian perpisahan itu, tanpa pikir jika sekali kumerasakan rindu, pekatnya batin ini bergejolak akan  memuntahkan lahar rindu yang sudah terpedam lama, dalam sekali ledakan dahsyat. Meski kepala dua sudah kulewati 4  tahun lalu. Tapi sifat kekanak-kanakan masih mendarah daging dalam tubuh yang mungkin akan mencapai 165 ini.
Tong, teng,,,!!! Jam tua pemberian Atuk mengejutkan lamunan pagiku. Biasanya kadang bersuara kadang tak berbunyi, bahkan berhenti berputar pada porosnya. Tapi kali ini entah apa yang menyemangati, ia berdetak mulus tanpa rintangan yang berarti. Dentangan antar besi tua itu selaras mengingatkan angkot langgananku yang mungkin telah menuggu di depan gang sempit berdinding lukisan liar. Tanpa isi, perutku lupa akan nutrisi yang belum didapat pagi ini. Benar saja, Bang Ujang telah datang. Kaki setengah tegap berdiri dengan topangan mobil yang kuat berdiri. Asap rokoknya sudah mencemari embun pagi. Kumis lebat tanpa jenggot, yang mungkin belum dibersihkannya. Tampak dari tiga butir nasi putih telah hinggap di sela-sela kumis itu entah sejak kapan. Tatapannya masih sayu padaku. Sekejap tatapan itu berayun menuju pintu angkot tak berdaun miliknya. Pertanda menyuruhku masuk pada deretan  jiwa yang semangat memulai hidup. Bang Ujang kini bertopang pada kakinya 100%, lalu membawa badannya menuju pintu berdaun disebelah kanan. Mungkin dia menganggapku sudah mengerti akan isyarat kecil itu. Mengingat ia sudah melakukannya sejak dua tahun silam, ketika pertama kali aku memilih tinggal di pemukiman padat untuk melanjutkan S2ku setelah vakum satu tahun. Kunaiki angkot kuning terang itu. Muka cemas, senang, kusam, bahkan muka datar pun lengkap didalamnya. Meski ku tau pemukiman ini heterogen, tapi belum sampai pikiranku tentang muka yang heterogen pula.
Treeetttt,,, rem Bang Ujang kelihatan sudah tua. Meski rem itu tak di paksa kerja keras, namun lima menit diatasnya enam kali berhenti, enam kali pula rem itu berbunyi seperti rem pada pembalap yang berhenti setelah gas maximum yang dimiliki. Pandanganku tak sampai mencapai pemandangan luar sana. Sehingga tak kuketahui siapa orang ketujuh yang menyetop angkot Bang Ujang.
“Nik, geser!!!” Bang Ujang mengejutkanku. Pandanganku reflek menuju semua penumpang yang memang sudah bersusun rapat tanpa spasi. Sedang bangku yang aku duduki belum mencapai 5 kepala seperti peraturan yang berlaku. Tapi untuk bergeser lebih rasanya tak mungkin lagi. Pasalnya Mbak Yati sudah terlebih dulu mengambil dua bangku dengan badan doublenya. Tapi untuk urusan bayaran ya tetap untuk satu bangku.
“bangku lima geser!!!” suara Bang Ujang sepertinya mulai kesal padaku. Mungkin takut peumpangnya lari begitu saja. Yang intinya ia juga bakalan kehilangan uangnya. Meski ia sudah mngenaliku dua tahun lalu. Toh, aku hanya penumpang, sama seperti yang lainnya. Menjadi pelanggan pun tak ada perlakuan istimewa di matanya.
“ya Bang,,,,” teriakan lembut itu ku tuturkan padanya.
Sosok yang kurasa belum pernah seangkot denganku itu mulai menyelundupkan kepalanya. Namun tak timbul keinginanku menatapnya lebih. Kualihkan padanganku lurus dengan badan yang menyemitkan diri sendiri. Posisiku tepat di samping pintu tak berdaun itu. Namun kini akan digeser oleh penumpang baru itu.  Aku tak yakin sisa kursi panjang itu cukup olehnya. Untuk badan seukuran dia mungkin hanya  seperempat bokongnya. Bukan karna badannya besar, tapi memang luas kursi yang minim. Kasihan, berusaha kukecilkan badanku. Tapi tetap saja tak ada perubahan yang berarti.
“Hmmmm,,, bisa duduk kan??” kata itu ku pasangkan dengan nada lembut. Seperti biasannya aku jika bicara dengan orang yang baru kukenal.
“nggak pa-pa kok, dekat kok,,, ” Kata-katanya membuatku lega. Nggak perlu menahan napasku untuk tetap kecil. Kalau dia bilang nggak pa-pa ya, mungkin itu sudah biasa baginya. Lagian dia seorang laki-laki.
Treeeetttt!!! Rem Bang Ujang kembali berbunyi. Kali ini bukan karena penumpang baru atau penumpang yang mau turun. Tapi memang berhenti mendadak yang selaras dengan suara rem yang keras itu. Bahkan lebih keras dari biasanya.
“kamprettt,,,,, tuh anjing” kata itu keluar dengan mudahnya dari mulut Bang Ujang. Mungkin senada dengan lampiasan rasa terkejutnya yang takut mati. Kurasakan badanku terbawa oleh hukum kelembaman ke arah depan. Namun tertahan akan sesuatu. Penahan yang membuatku merasa nyaman hinggaku rasakan semua gaya menjadi nol sama dengan kecepatan angkot ini. Mataku terpejam secara reflek.  Perlahan mataku mulai kubuka. Sebuah telapak tangan kanan itu sudah mendarat di bahu kananku. Lengannya pun  mengikuti garis pundak dari kiri ke kanan. Perasaan ini spontan berubah. Berubah sealun dengan percepatan denyut jantung yang tak mau kalah berlari. Bersama detakan keras ini perlahan ku tolehkan wajahku ke arah kiri. Pertama kali ku memandangnya dengan sempurna. Namun masih kabur akan silhuet tajam pagi ini. Tangan kirinya masih berpegang pada ganggang pintu yang masih tersisa sebagai penahan beratnya juga aku yang 45 ini. Sedang ia masih tajam menatap ke arah depan dengan sedikit kerutan dahi tanda cemas. Nafasnya cepat bergantian antara inspirasi dan ekspirasi. Dalam darurat ini masih saja kupikirkan ekspresinya yanng sangat berlebihan itu.
1,2,3,4,5,..... Dor!!!! Sadarku terbangun. Aku terlalu lama memandangnya. Namun tangannya masih erat padaku. Kejutan sadarku menghasilkan gerakan sontan reflek yang cepat. Membuatnya sedikit terkejut. Sadar pula akan tanngannya secepat kilat dielakkannya menuju titik poros tubuhnya. Keningnya yang tadi berkerut kini mulai tegang dan memuai akan panasnya suhu tubuhnya, kali ini bersamaan dengan merah tomat menghampiri wajahnya. Aku hanya terdiam. Koneksiku terputus akan dunia. Tak ada sepatah kata pun yang keluar seiring angkot melaju kembali. Hanya hening kurasa. Tak terdengar satu pun pekikan dunia di gendang telinga, meski Mbak Yati menikmati ocehan gunjingannya tentang Mbak Ratna tetangganya. Mataku hanya menatap telapak tangan yang bergerak dan bermain pertanda cemas, panik, dan campur di hati ini. Darinya keluar cairan keringat yang biasanya hanya muncul saat aku gerogi di mimbar saat pidato.
“Nik! Mau turun nggak?” bentakan Bang Ujang yang sudah biasa bagiku itu memutus lamunan panjang pagi buta. Tak kulihat sosok lain di angkot itu lagi selain aku dan Bang Ujang. Tak kuketahui kapan mereka lenyap dari pandanganku.
“i..iya Bang . Makasih” sehelai uang dua ribu rupiah ku daratkan saja di tangnannya.
Pikiranku masih berjalan memikirkan pria di angkot tadi sealun langkah kaki cepat yang ku pasang menuju kelas pagi ini. berharap pikira ini bisa hilang seiring waktu berlalu. Ya, dia tidak akan bertemu lagi denganku. Lagi pula dia tidak melihat wajahku dengan jelas.
Hahhh,,,, udara kelas pagi ini sama seperti biasa. Tak berubah sedikitpun, meski kalender si samping papan tulis kusam itu telah menunjukkan angka yang berbeda.  Kulangkahkan kaki dengan sepatu dongker bis putih menuju bangku di pojok kiri belakang, tempat ternyaman untuk tidur dalam belajar. Meja anak kuliahan ini kududuki dengan perasaan kurang puas, lantanran bidangnya terlalu sempit untuk menopang kepala yang dibungkus jilbab hitamku. Tapi kali ini tak ada sedikitpun niat hatiku untuk melelapkan diri. Kukeluarkan notebook yang telah jenuh kusimpan dalam tas ransel. Facebook menjadi sasaran awalku. Melihat gosip dunia maya yang tak pernah kuno sejak beberapa tahun lalu menjadi tren dunia khususnya remaja.
Ah,, kelas yang membosankan. Dari tadi hanya aku dan janet yag menghuninya. Cewek terpendek yang juga dikenal muslimah plus pendiam itu masih belum mengeluarkan sepatah kata pun sejak aku menghuni kelas 5x5 bercat kuning pucat itu. buku sirah nabi yang dipegangnya tampak baru dibelinya kemarin. Warnanya masih mengkilap. Tapi halaman yang di tatapnya sudah melebihi setengah buku.
“An, kok belum ada yang datang?” tanyaku memecah sunyi pagi hari.
“kata Mila, dosen kita nggak datang hari ini.” jawabnya datar.
Emosiku hampir menuju vertexnya. Tapi ya gimana lagi? Toh orangnya kayak gitu. Marah pun mungkin telinganya nggak bakalan dengar. Memang sikap antisosialnya tak dapat ditolerir. Entah sengaja atau tidak, tak ada malu pada dirinya untuk memilih jalan ini. mungkin baginya nilai adalah segalanya. Tapi bagiiku nilai hanyalah angka dan huruf yang dipadukan sesukanya di kertas datar yang kabarnya pernah membunuh mahasiswa kampus ini. ironis memang, tapi inilah hidup.
Tanpa kata kulangkahkan kakiku menuju udara segar dari pohon alpukat di depan kelas kami. janet mungkin tak akan menyadariku. Atau jika ia menyadari, mungkin ia akan pura-pura tak sadar. Mungkin lagi dia ratusan kali bilang syukur di hatinya. Sudahlah,, buat apa mikirin temn yang nggak mikirin teman. Tapi otakku masih berpikir kemana tempat lain yang bisa menampugku untuk tetap ol dengan Mia yang sudah tadi menyebarkan gosip terhangat kmpus hari ini. hmmm... oh ya. Ruang seni sebelah sana mungkin sedang kosong. Lagipula siapa yang mau masuk ruang seni yang tak lengkap itu. ditambah letaknya yang sangat tak strategis. Terpecil. Juga terkenal denan cerita horor yang cukup menakutkan. Tapi hal seperti itu tak akan menjadi titik kelemahanku. Karna aku tak percaya pada hal yang demikian. Bagiku itu hanyalah hayalan dan imajinasi oranng-orang penakut.
Ini pertama kalinya aku memasukinya.  Semua maja dan kursi menepi seolah tak boleh diduduki. Lumayan luas ternyata. Tampaknya cukup terawat. Lantai marmar coklat itu tampak baru saja di sapu. Peralatan seni yang tersedia pun tertata rapi. Tapi detik ini belum tampak tanda-tanda kehidupan yang terasa. Satu ruang paling belakang dengan pintu pojok kiri itu sedikit membuatku penasaran. Tapi bunyi pesan Mia yang dari tadi terus memekikkan telingaku memaksaku untuk memperhatikannya lebih dulu. Panntatku menginjak lantai yang tadinya di injak kaki yang berselimut kaos kaki coklat muda. Tidak! Layar datar ini sudah menunjukan angka 10% di pojok kanan bawah. Panikku mulai membara. Segera kukeluarkan chargernya. Kali ini hanya tinggal menancapkannya pada kontak yang tersedia. Namun hal ini mengingatkanku kembali pada masa pahit SMA yang tak bisa kulupakan.

“Nik, tolong dong,,,”pinta Nina sambil menyerahkan colokkannya.
“sini,,,”
Kugapai colokkan itu dan ku tancapkan pada kontak putih di dinding ungu kamar Nina layaknya pelajar TK yang memainkan puzzle dengan mahirnya.
“yeeeaaaa,,,, lampunya cantik Nik,,, mungkin karya kita akan menjadi yang terbaik,,, ”
Aku hanya mengangguk. Menggambarkan betapa fokusnya aku pada proyek yang sudah satu bulan lebih kami tekuni. Tanpa ragu, ku lepas lampu bercat merah itu dari feetnya. Treeettt,, sentakkan listrik itu kurasakan. Meski hanya lemah, energinya menggertakku. Cukup membuatku mundur dari medan perang.
“”Na,,, cabutin dong....” pintaku pada Nana yang tak tau secuiul pun akan kejadan yang menurutku dahsyat itu.
“oke deh,,, nah,, sekarang tinggal tahap terakhir merangkai ini. pakai lem lilin aja ya?? ”
“ya,,,” jawabku layu.
Perakitan lampion cantik itu cukup menghiburku. Sehingga ku lupakan gejala trauma yang mengancam hidupku. Akhirnya lampion 25 cm itu kmi selesaikan. Cukup membuatku terpukau, apa ini buatanku??? Dengan sigap kugapai colokkan yang sama untuk bermain puzzle untuk yang kedua kalinya. Cussss,,,,, letusan kecil itu menarik pita suaraku untuk keluar maksimal. Nafasku berestafet kencang antara tarik dan hembus. Keringat dingin itu terpencar dari pori-pori. Muka merah, panik dan memaksaku untuk tak sadarkan diri dari dunia.

Semenjak saat itu keberanianku menancapkan colokan mulai hilang. Tapi aku biisa melawannya di tempat mana aku sudah bediam lama, kontrakanku. Tapi ini bukan kontrakanku. Mia masih memanggil lewat obrolan. Tanganku sudah mendekati dua lubang kecil penuh misteri sejak beberapa tahun itu. kukumpulkan kuda-kuda pemberani yang masih tersisa dalam jiwaku, untuk berpacu melawan ketakutan akan takutnya diri pada hal kecil yang mungkin hanya aku yang menakutinya.
“hanya dua lubang kecil” kalimat itu berusaha ku ucapkan berulang kali untuk menenangkan diri yang tak kunjung tenang.
Cusss,,,,, bunyi itu terulang kembali. Tubuhku terlihat sama seperti beberapa tahun silam. Aku tetap berusaha untuk membuka mataku, melihat seramnya dunia. Melebihi suramnya muka kuntilanak kesurupan. Teriakan yang sudah kupancarkan beberapa detik lalu tampaknya tak menggetarkan gendang telinga seseorang.  Aku hanya bisa berusaha menenangkan diri sendiri. Aku tak mau pingsan disini. Tapi nafas yang juga panik ini menggambrkan hal lain yang tak kusukai. Pasrah, mungkin jalan yang akan ku pilih. Hatiku mulai komat-kamit berdo’a. Berharap suatu keajaiban akan terjadi di sela musibah yang sedang kuhadapi ini. perlahan mataku mulai menyerah, perlahan mulai gelap, perlahan mulai kosong.
Satu titik cahaya kini terlihat. Perlahan semua cahaya kembali berkumpul pada mataku. Bersama dengan wangi balsem yang menyengat hidung. Bantal nyaman ini cukup menenangkanku. Berpikir aku tak akan mati semudah itu.
“udah sadar??” suara berat yang tertahan jakun itu mengejutkanku.
Tatapanku mulai menatap keatas, dimana pemilik bantal paha yang tengah kunikmati. Koneksi otakku mulai tersambung pada kejadian pagi tadi. Ya, pria yang sama. Tapi badanku masih belum siaga untuk beranjak. Aku masih belum terbayangkan adegan drama yang ku tonton malam tadi mengimbas kehidupan nyataku. Ah, mana mungkin? Paling cuma kebetulan.  Panikku sebenarnya masih berkobar. Namun ekspres itu tak dapat ku keluarkan saat ini. bisa-bisa maluku naik 100o kalau salah berbuat satu gerak saja. Perlahan ku angkaat massa badanku dengan kekuatan yang masih tersisa. Tapi sepertinya ada perbedaan dengan drama malam tadi, pemeran cowoknya membantu si cewek bangkit. Sepertinya nih cowok cuek abiss,,,
“udah baikan???” tanyanya dengan muka datar miliknya.
“hmmm,,,”anggukkanku sepertinya belum meyakinkannya.



Bersambung………

PrakaryaMakanan Khas padang


Nama Makanan
Asal Daerah
Bahan
Gambar
Keterangan
Sate padang
Padang, Sumatera Barat
daging
http://content.rajakamar.com/wp-content/uploads/2012/05/2322833663_28c9613877_z.jpg

Teh talua
Padang, Sumatera Barat
Teh dan telur
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3EvUKaRQDK7btEqxId9uNo96V_sHqtkEbJYcDm7UHTIp-A9yNs3KYRnLTdnKWdWwC3ewNLuJr6RjGXz9lurxpNux1dtIzPowiX9YJXWa_lRlorEI4s4afdRSyqGW0DccZDXQmYEW-P7kn/s640/teh+talua.JPG

Dendeng balado

Padang, Sumatera Barat
daging
http://blog.umy.ac.id/cahminang/files/2011/11/dendeng-balado1.jpg

dendeng batokok
Padang, Sumatera Barat
daging
http://blog.umy.ac.id/cahminang/files/2011/11/dendeng-batokok.jpg

SOTO PADANG
Padang, Sumatera Barat
daging
http://blog.umy.ac.id/cahminang/files/2011/11/soto-padang.jpg

KALIO BALUIK
Padang, Sumatera Barat
belut
http://blog.umy.ac.id/cahminang/files/2011/11/samba-lado-tanak.jpg

LAMANG TAPAI ( ketan )
Padang, Sumatera Barat
ketan
http://blog.umy.ac.id/cahminang/files/2011/11/Lamang-Tapai-Ketan.jpg



1.  Sate Padang
Merupakan salah satu kuliner khas Sumatera Barat. Sate Padang berbahan utama dagings api, lidah, atau jeroan (jantung, usus, dan tetelan). Bumbunya juga berbeda dengan sate pada umumnya. Bumbu sate Padang umumnya adalah bumbu kacang (tekstur dan bentuknya lebih mirip bubur) yang dibumbui dengan cabai yang banyak sehingga mempunyai rasa yang pedas. Namun ada pula bumbu lain dengan bahan tepung yang diberi bumu sesuai ciri khas masing-masing.
2.  TehTalua ( TehTelor )
Minuman berbahan dasar teh dan telur dari sumatera barat merupakan minuman khas daerah selanjutnya. Selai bergizi dengan kaya protein, teh talua juga memiliki rasa yang menggugah selera. Meskipunn berbahan dasar telur dan teh, namu ada juga beberapa orang yang menambahkan unsur lain sesuai seleranya. Seperti susu  kenntal manis, gula, dan terkadang vanili bahkan jeruk nipis. Cara pembuatannya tergolong mudah. Yaitu dengan mengocok telur dengan bahan lain (gula, vanili)aduk hingga merata. Seduh dengan teh panas, jika mau boleh ditambah susu atau jeruk nipis.
3.  Dendeng balado
Hampir semua restoran padang yang ada di sumatera barat menyediakan menu DENDENG BALADO, makanan ini berbahan dasar daging sapi yang di potong tipis dan di kasih bumbu rempah-rempah dan di jemur hingga kering,setelah itu baru di goreng dan di kasih LADO ( cabe merah ),,hmmmm yummi,,rasanya sangat enak,,silakan bagi pembaca yang berkesenpatan ke SUMATERA BARAT jangan lupa untuk mencicipi dendeng batokok ya..
4.  Dendeng batokok
Sama halnya dengan dendeng balado,dendeng batokok juga hampir di setiap restoran padang di sediakan, bedanya adalah kalau dendeng batokok ini di getok/di pukul atau di tumbuk setelah di goreng dan tentunya dengan bumbunya yang khas dan di taburi dengan cabe merah di atasnya…di jamin ketagihan…
5.  SOTO PADANG
Soto merupakan hidangan berkuah yang memiliki rasa dan ciri khas masing-masing di setiap daerah,dan tak ketinggalan ,sumatera barat juga punya menu soto yang lebih di kenal dengan nama SOTO PADANG, soto padang yang bercita rasa gurih dengan campuran sambal merah yang khas sangat cocok untuk di cicipi bersama keluarga…
6.  LAMANG TAPAI ( ketan )
Nah ini dia makanan yang sangat saya sukai,namanya lamang tapai,,hmmmm…makanan ini sich katanya berasal dari daerah pesisir selatan,tapi hampir di semua daerah minang kabau terdapat makanan ini,,bahan dasar makanan ini adalah beras ketan yang rasanya sangat khas, rasanya manis bercampur dengan cita rasa tapai yang nikmat..coba deh…di jamin ketagihan….
7.  KALIO BALUIK ( kalio belut )
Samba lado tanak merupakan masakan khas dari nagari sungai jambu,di pinggang  gunung  marapi , kab.tanah datar sumatera barat. di olah dari cabe yang sudah di giling,santan yang sudah di masak di campur dengan ikan teri,pete,kentang…hmmmm enak,,yang khas dari masakan ini adalah pedasnya yang membuat anda minta ampunnn,,, silakan di coba..